Kasus Antasari

Antasari dan Teori Konspirasi

Tjipta Lesmana (ex KPK ?)

Betulkah Antasari terlibat, bahkan menjadi otak dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen?” Pertanyaan ini saya ajukan kepada salah satu kawan dekat Antasari, yang kini menduduki jabatan tinggi dalam pemerintah.

Kawan saya tadi lama berdiam diri. Setelah menarik napas panjang, ia menjawab dengan tenang: “Antasari berhadapan dengan para kapitalis (baca: konglomerat) dan para rentenir ekonomi Indonesia… .” Percakapan berlangsung Senin siang, 4 Mei. Sehari sebelumnya, Minggu 3 Mei 2009, ia mengaku sepanjang hari berada di rumah Antasari bersama beberapa teman lain, berdiskusi sekaligus memberikan simpati dan dorongan moral kepada Ketua KPK non aktif ini.

Jika jawaban di atas benar, maka Antasari bisa dikatakan menjadi korban teori konspirasi. Teori konspirasi mencoba menjelaskan sebuah peristiwa historis atau peristiwa terkini sebagai akibat dari komplotan rahasia yang dilakoni oleh cabal yang amat berkuasa. Cabal sendiri merupakan istilah yang berasal dari kata Yahudi, Kabbalah. Artinya, kumpulan orang yang bersatu dalam desain tertentu untuk mewujudkan kepentingan atau cita-cita mereka dalam sebuah organisasi. Pewujudan cita-cita itu biasanya dilakukan melalui intrik atau tindakan jahat, kadang bahkan sadis.

Teori konspirasi mendapat perhatian serius dari para ilmuwan sosial sejak Karl Popper meluncurkan konsep ini dalam bukunya yang terdiri atas dua jilid, The Open Society and Its Enemies. Popper yakin sekali akan kebenaran teori konspirasi. Namun, ia mengakui bahwa para cabal acapkali gagal mencapai apa yang menjadi sasaran operasi konspirasi.

Teori konspirasi selalu muncul manakala ada kejadian yang diliputi tanda-tanya misterius, atau aroma mengejutkan, membingungkan, meragukan, dan prasangka negatif. Tentu, teori ini hanya muncul dalam peristiwa yang memiliki magnitud besar, atau memiliki makna historis penting. Ambruknya “kerajaan” Uni Soviet, misalnya, diyakini sebagai konspirasi Barat, khususnya Amerika. Peristiwa Gerakan 30 S/PKI sering juga diyakini sebagai konspirasi dari banyak kekuatan – dalam dan luar negeri – untuk menghancurkan kekuasaan Soekarno. Begitu juga dengan kejatuhan Soeharto pada Mei 1998, banyak orang percaya bahwa itu konspirasi Amerika yang sudah muak dengan rezim Orde Baru.

Banyak orang percaya betul bahwa kejatuhan Antasari Azhar, yang begitu tragis, merupakan hasil konspirasi kekuatan-kekuatan tertentu. Kecurigaan ini didasarkan atas berbagai fakta dan kejanggalan. Pertama, selama ini pasti banyak sekali orang/pihak yang benci setengah mati kepada Antasari. KPK di bawah kepemimpinan Antasari, sudah menjebloskan banyak orang/pejabat tinggi ke penjara: mulai dari mantan gubernur, jenderal TNI, ataupun polisi (mantan Kapolri), anggota DPR, pengusaha besar, CEO kenamaan, para eks petinggi Bank Indonesia, dan sebagainya. Tentu, kita percaya bahwa langkah-langkah hukum KPK itu bukan ngawur. Toh, banyak pihak yang bersikap sinis pada KPK, sebab prinsip “tebang pilih” tetap amat mencolok. Di sinilah kebencian itu timbul.. “Kenapa saya ditindak, sedang dia tidak?” Kenapa, misalnya, kasus yang dilaporkan Agus Condro tidak ditindaklanjuti?

Dendam

Kedua, orang-orang di Kejaksaan Agung boleh jadi juga termasuk mereka yang punya dendam terhadap Antasari. Kasus Artalyta, sungguh telah mengobok-obok instansi pimpinan Herdarman Supandji ini. Kalau saja Jaksa Agung berani bertindak keras, ketika itu, minimal dua jaksa agung muda bisa diseret ke meja hijau. Di mata sementara koleganya di Kejaksaan Agung, Antasari tidak lebih seorang pengkhianat. Bak kacang yang lupa akan kulitnya. Maka, tidak heran bagaimana menggebu-gebu Kejaksaan Agung menyikapi kasus Antasari. Aneh, kenapa kejaksaan campur tangan dalam kasus pembunuhan – plus asmara segitiga? Kenapa Kejaksaan Agung dengan cepat menetapkan Antasari sebagai tersangka? Bukankah ini kewenangan kepolisian sebagai penyidik?

Ketiga, ada informasi yang mengatakan bahwa rapat untuk membahas rencana menghabisi nyawa Nasrudin Zulkarnaen berlangsung di salah satu ruang di Bareskrim Mabes Polri. Ditambah lagi, dengan keterlibatan seorang Komisaris Besar Polisi dan identitas dua penembak jitu yang disebut- sebut oknum kesatuan Polri, semua itu seolah-olah menambah kecurigaan bahwa Polri mungkin termasuk juga dalam kelompok cabal untuk menjerat Antasari. Sekadar catatan: di bawah kepemimpinan Antasari, dua eks petinggi Polri (masing-masing berpangkat bintang 3 dan 4) sudah dijebloskan dalam sel tahanan.

Keempat, saat ini masih banyak orang yang tidak bisa tidur nyenyak, karena bakal berurusan dengan KPK. Info sudah bocor bahwa paling tidak lima mantan gubernur, wakil rakyat di DPR, petinggi BI, dan sejumlah cukong yang sebentar lagi bakal di-jerat oleh KPK. Apakah mereka berdiam diri dan tidak melakukan perlawanan?

Jadi, Antasari bukan hanya menghadapi ancaman “para kapitalis dan rentenir ekonomi Indonesia”. Masih banyak sekali musuhnya. Ya, ini risiko sebuah jabatan yang memang begitu “panas”. Namun, jika Antasari tidak terlibat dalam skandal asmara segitiga, boleh jadi hari ini ia masih sanggup melawan musuh-musuhnya itu! Bukankah pembunuhan atas Nasrudin Zulkarnaen terkait erat dengan sexual affair dengan pemeran utama berinisial RJ?

Penulis adalah kolumnis senior

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: